Duh! Amerika dan Eropa Kampanye Hitam Sawit Indonesia, Padahal Sudah Ada ISPO

(ilustrasi/foto: umyiffahcollection. wordpress.com)

MEDANSATU.COM, Jakarta – Potensi yang dihasilkan dari kelapa sawit Indonesia ditengarai menganggu pengelolaan perkebunan nabati seperti kedelai dan minyak bunga matahari milik negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika.

Agar menjaga perkebunannya tersebut, negara-negara Eropa dan Amerika tersebut coba mengintevensi Indonesia untuk menerapkan trade barier, seperti contohnya Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO), High Conservation Value (HCV), dan berbagai standar-standard lain yang terhadap produk kelapa sawit Indonesia bila ingin tetap ikut pada perdagangan global.

Padahal Indonesia sudah memiliki kebijakan dan regulasi kelapa sawit nasional, yakni Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang telah lama dilaksanakan dan wajib bagi seluruh perusahaan kelapa sawit yang beroperasional di wilayah negara Republik Indonesia.

“Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat itu motifnya karena terganggu hasil perkebunan minyak nabati lain milik mereka, seperti kedelai dan bunga matahari. Kelapa sawit di Indonesia areal lahannya kecil namun pridutivitasnya tinggi, sedangkan minyak nabati lainnya itu di Eropa dan Amerika, lahannya luas tapi produktivitas rendah, bahkan sering rugi,” ujar Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gus Dalhari Harahap, seperti siaran pers yang diterima redaksi medansatu.com, Rabu (9/11/2016).

Negara-negara di Eropa dan Amerika itu, ucap Dalhari, ingin supaya harga produksi minyak kedelai maupun bunga mataharinya tetap mahal di level global. Selain itu, terjadi keseimbangan harga antara minyak kelapa sawit dan kedelai serta bunga matahari.

“Jadi supaya harga produksi perkebunan mereka tidak jatuh sekali. Apalagi sekarang kelapa sawit amat diminati di perdagangan global,” Dalhari menuturkan.

Loading...