Penahanan Pelaku Penganiayaan di Polsek Bila Hulu Dipersoalkan Kuasa Hukumnya

Nasir Wadiansan Harahap SH, kuasa hukum Tatam di Mapolsek Bilah Hulu. (medansatu.com/habibi)

MEDANSATU. COM, Labuhanbatu – Nasir Wadiansan Harahap SH, kuasa hukum tersangka kasus penganiayaan, Tatam (40), warga Dusun Aek Batu, Desa Tanjung Siram, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, mempersoalkan penahanan kliennya.

Menurutnya, penahanan yang dilakukan Polsek Bilah Hulu terhadap kliennya telah melebihi waktu yang ditentukan oleh undang-undang. Pasalnya, kliennya ditangkap pada 8 Januari, namun surat penahanan baru diberikan pada 10 Januari. Surat penahanan tersebut juga tanpa dibubuhi tanggal.

Kepada medansatu.com, Nasir menjelaskan, kliennya dilaporkan atas dugaan tindak pidana penganiayaan oleh pelapor muktar sebagaimana dimaksud Pasal 351 KUHP jo 170 KUHP sesuai dengan Laporan Polisi No: 240/XI/2016/SU/RES-LBH/Dek. Bilah Hulu.

“Si Tatam inikan buka warung tuak di samping rumahnya. Kejadiannya bermula akibat handphone (HP) milik Azir, pelanggan Tatam hilang di warung tuaknya, sehingga Tatam menjumpai Muktar yang saat kejadian sedang minum tuak juga di warung itu dan menanyakan HP tersebut,” katanya, Rabu (11/1/2017).

Disebutkan Nasir, saat itu Muktar tidak mengakuinya, sehingga Tatam sempat menampar Muktar. Esoknya ponsel tersebut ditemukan di angkong di samping rumah Tatam. “Muktar kemudian melaporkan kejadian penamparan tersebut ke Polsek Bilah Hulu,” jelasnya.

Pengacara muda itu mengatakan, seseorang baru bisa ditangkap bila diduga keras sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Jika dikaitkan dengan pengertian penangkapan (Pasal 1 angka 20 KUHAP), maka seseorang baru bisa ditangkap bila sudah berstatus sebagai tersangka atau terdakwa terlebih dahulu.

Loading...