Sah! Taman Ya’ahowu Jadi Ikon Pariwisata Kota Gunungsitoli, Ini Alasannya…

Suasana FGD penetapan ikon pariwisata Gunungsitoli. (medansatu.com/zega)

MEDANSATU.COM, Gunungsitoli – Pemko Gunungsitoli, Sumatera Utara (Sumut), menetapkan Taman Ya’ahowu sebagai ikon pariwisata Kota Gunungsitoli.

Penetapan itu dilakukan setelah digelar Focus Group Discussion (FGD) Penetapan Ikon Pariwisata Kota Gunungsitoli yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Aula Kantor Walikota, Selasa (17/10/2017).

Rangkaian proses diskusinya diawali dengan paparan narasumber dari P Johannes Haemmerle OFM Cap (Museum Pusaka Nias), Pdt Tuhoni Telaumbanua MSi PhD dan Drs Baziduhu Zebua.

Masing-masing narasumber memberi penjelasan makna sebuah ikon dari berbagai perspektif dan sudut pandang. Sebelumnya ada beberapa ikon yang ditawarkan seperti Magiao (burung beo), Museum Pusaka Nias, Taman Ya’ahowu maupun So arö Wiga.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Gunungsitoli, Yasokhi T Harefa SE MSi mengatakan, tujuan pelaksanaan kegiatan ini sebagai sarana penggalian ide gagasan potensi ikon pariwisata dan mendukung program pemerintah pusat mewujudkan pengembangan konsep penthahelix, yakni harmonisasi pengembangan kepariwisataan yang melibatkan unsur Academic, Bussines, Community, Government dan Media.

“Sehingga terciptanya rasa bangga dan memiliki sebuah identitas pariwisata Kota Gunungsitoli dalam kehidupan bermasyarakat, pelaku usaha pariwisata dan pemerintah,” katanya.

Dalam diskusi yang berkembang dalam forum, banyak ide baru dan tawaran dari peserta diskusi seperti Töla Maera, Tugu Gempa, Humogo, maupun Taman Luaha.

Sementara, untuk menjadikan sebuah ikon beberapa syaratnya, yaitu harus dapat diterima semua pihak, menarik, unik dan dapat dikembangkan dalam waktu yg cukup lama sesuai yg disampaikan Kurnia Zebua SE MSi sebagai moderator diskusi.

Melalui proses diskusi panjang dari berbagai saran pendapat peserta forum, akhirnya Taman Ya’ahowu ditetapkan menjadi Ikon Pariwisata Kota Gunungsitoli yang berita acara penetapannya ditanda tangani oleh para tokoh adat, tokoh budaya, pemerintah, pers, masyarakat, BUMN/BUMD dan tokoh agama. (yohanes giawa)

Web Analytics