Bulan Kesehatan Gigi 2018, Lindungi Keluarga Dari Risiko Gula Tersembunyi…

(jh siahaan/medansatu.com)

MEDANSATU.COM, Medan – Pepsodent, brand perawatan kesehatan gigi dan mulut produksi PT Unilever lndonesia Tbk bekerjasama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi lndonesia (AFDOKGi) menggelar program Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sumatera Utara (USU).

Kegiatan dimulai sejak hari Senin (12/11/2018) sampai pada hari Rabu (14/11/2018) mendatang. Sesuai dengan tema, “Lindungi Kesehatan Gigi Keluarga dari Risiko Gula Tersembunyi”, BKGN 2018 memberikan edukasi mengenai pentingnya mewaspadai gula tersembunyi yang menimbulkan masalah karies atau gigi berlubang.

Divisi Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, Ratu Mirah Afifah menjelaskan, edukasi ini dipercaya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Medan, karena banyak kuliner khas Medan yang meskipun tidak bercita rasa manis, namun, memiliki kandungan gula tersembunyi.

“Kuliner Medan terkenal dengan hidangan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti Lontong Medan, Mie Gomak, Bihun Bebek, Nasi Soto Medan, Kwetiau, Lemang dan banyak lainnya. Apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai perawatan kesehatan gigi yang benar, tentunya gula tersembunyi yang terkandung di dalam karbohidrat ini akan beresiko menimbulkan masalah karies,” ujarnya.

Tambah Ratu Mirah, sejak pertama kali diadakan tahun 2010, melalui pelaksanaan BKGN Pepsodent, PDGI dan AFDOKGl memiliki komitmen berkelanjutan untuk mengedukasi, memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, sekaligus membiasakan masyarakat Indonesia merawat kesehatan gigi dengan menyikat gigi pada pagi dan malam hari, sert memeriksakan diri ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali.
“Tahun ini merupakan tahun ke-9 pelaksanaan BKGN di kota Medan. Di setiap pelaksanaannya kami selalu mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat setempat, artinya masyarakat Medan memang memiliki kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut mereka. Tahun ini kami memiliki target untuk memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan gigi ke 1.000 orang masyarakat Medan dan sekitarnya,” tutur Ratu Mirah.

Baca juga
Saat Bupati Sergai Bicara 3 Elemen Hidup: Ilmu, Iman dan Cinta...

Lebih lanjut, terang Ratu Mirah, setiap tahun panitia selalu mengangkat berbagai tema menarik dan terkini dimana pada tahun ini, tema risiko gula tersembunyi terhadap kesehatan gigi dan mulut menjadi pilihan karena ternyata masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa makanan atau minuman yang tidak manis sekalipun dapat mengandung gula penyebab gigi berlubang.

Terkait dengan konsumsi gula, World Health Organization (WHO) menganjurkan bahwa asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman tidak melebihi 50 gram per hari untuk dewasa dan 30 gram per hari untuk anak.

Sayangnya, data Survei Konsumsi Makanan individu (SKMI) Indonesia tahun 2014 menyatakan bahwa sebanyak 29,796 masyarakat Indonesia mengonsumsi gula harian melebihi batas rekomendasi tersebut. Konsumsi gula berlebih ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan kehadiran gula tersembunyi.

Khusus mengenai hubungan antara gula tersembunyi dan gigi berlubang, Trelia Boel selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara menjelaskan bahwa masalah gigi berlubang atau karies seringkali digambarkan sebagai 4 mata rantai yang saling berinteraksi, yaitu host yang terdiri dari gigi dan air liur, mikroorganisme atau bahan pada plak, substrat atau asupan makanan dan waktu.

“Bicara mengenai substrat, gula yang kita konsumsi diubah oleh mikroorganisme di dalam mulut sehingga kondisi pH mulut otomatis berubah menjadi asam dan proses karies pun terjadi. Selain substrat, faktor waktu juga penting diperhatikan karena berhubungan erat dengan seberapa seringnya kita mengonsumsi gula, termasuk gula tersembunyi,” tambahnya. (jh siahaan/medansatu.com)

Loading...
loading...
Loading...
Loading...