6 Fakta Duka dan Banjir Air Mata Keluarga Korban KKB: Pelukan Istri di Peti Jenazah, Hingga…

Loading...
Petugas mengevakuasi salah satu jenazah korban kebrutalan KKB. (foto: john roy purba/kompas.com)

MEDANSATU.COM, Papua – Duka mendalam menyelimuti keluarga para korban pembantaian Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua pimpinan Egianus Kogaya.

Para jenazah korban yang telah berhasil dievakuasi diidentikasi, kemudian diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. Banjir air mata pun terasa sangat memilukan.

Sejauh ini, dari 19 korban meninggal dunia, baru 17 yang ditemukan. Dua jenazah lagi dan dua korban yang diduga selamat hingga saat ini, Senin (10/12/2018), masih dalam pencarian. Berikut 6 fakta di balik duka keluarga korban:

1. Duka Agus Pasa untuk sang suami, Samuel Pakiding

Tangis wanita bernama Agus Rudia Pasa itu pecah saat peti jenazah yang berisi jasad sang suami, Samuel Pakiding, tiba di rumah duka, di Jalan Tengko Situru RT 25 KM 5 Bukit Sion, Jahab, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (8/12/2018).
Agus Pasa hanya bisa memeluk peti jenazah suaminya tecinta.
Kepergian Samuel mencari nafkah ke Nduga Papua ternyata berakhir tragus. Ayah empat anak tersebut menjadi korban pembantaian KKB di Nduga, Papua.

“Dia berangkat ke Papua tanggal 13 Oktober, tanggal 14 November komunikasi terakhir, karena dia turun ke Timika. Dia bercerita, dia sangat hati-hati di sana. Dia tidak berani macam-macam karena jika ada masalah walau sepele akan berujung penumpasan,” ujarnya.

Agus Pasa sempat memaksa suaminya untuk menolak tawaran proyek membangun sekolah di Nduga, namun Samuel akhirnya memutuskan untuk ikut bersama rekan-rekannya ke proyek di Nduga tersebut.

Loading...
loading...
Loading...
Loading...