Kisah Pemberontak Papua Nyaris Bunuh Jenderal Sarwo Edhie Wibowo

Loading...
Letjen Sarwo Edhie Wibowo. (foto: istimewa/wikipedia)

MEDANSATU.COM, Jakarta – Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) terjadi sejak dulu. Sebelum dilakukannya penentuan pendapat rakyat (Perpera) yang ditandatangani pada tahun 1969.

Hasilnya, rakyat Irian Jaya (kini Papua) memilih tetap bergabung dengan Indonesia sebagai bagian NKRI. Pihak yang tak setuju kemudian lari ke hutan dan melakukan pemberontakan.

Ada kisah menarik saat Sarwo Edhie Wibowo ditugaskan ke Papua. Ia sempat akan diculik dan nyaris dibunuh oleh gerombolan bersenjata OPM. Saat itu, Sarwo Edhie masih berpangkat Brigjen. Ia baru saja 5 bulan bertugas di Medan sebagai Pangdam Buki Barisan.

Mantan Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) mendapat tugas baru yang mengharuskannya melepas seragam militernya karena ditugaskan sebagai duta besar di Moskow, Uni Soviet.

Dalam sebuah kesempatan, Sarwo sempat melontarkan keluhan atas keputusan tersebut kepada istrinya, Sri Sunarti Hadiyah. “Kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan membunuh aku dengan cara seperti ini. Apa salahku sampai aku harus dihentikan begini rupa?” ujarnya seperti dikisahkan putri ketiganya, Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono (istri Presiden SBY) dalam buku biografi berjudul ‘Kepak Sayap Putri Prajurit’ yang ditulis Albherthiene Endah.

Bagaimanapun, menurut Ani Yudhoyono, ayahnya itu telah dikenal sebagai penumpas komunis pada 1965, lalu diceburkan ke negara berpaham komunis. “Bagi papi ini seperti meledek dirinya,” tulisnya.

Loading...
loading...
Loading...
Loading...